Sintang, Kalbar — Pagi itu, Senin 17 November 2025, di ruang kerjanya di gedung DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, Ketua Komisi A, berbicara tentang sesuatu yang tampak sederhana, namun sangat menentukan masa depan anak-anak: fasilitas olahraga di sekolah.
Bukan kali pertama ia menyuarakan hal ini, tetapi hari itu nada suaranya terdengar lebih mendesak. “Pembinaan olahraga harus didorong semaksimal mungkin. Sekolah-sekolah kita perlu fasilitas olahraga yang layak,” katanya dengan ekspresi tegasa dari seorang legislator. Ada kegelisahan yang tersimpan di pikiran Santosa di balik kalimat itu.
Karena menurutnya, melalui olahraga, siswa belajar tentang kedisiplinan, kerja sama, sportivitas, kepemimpinan, hingga ketahanan mental. “Nilai-nilai ini bukan hanya untuk menang pertandingan, tapi untuk kehidupan,” ujarnya.
Namun idealisme itu sering terhenti ketika berhadapan dengan realitas di banyak sekolah. Dari kunjungannya, Santosa menyaksikan betapa kerasnya perjuangan tenaga pendidik mengembangkan minat siswa dalam olahraga di tengah minimnya fasilitas sarana olahraga. Ada pula yang peralatannya sudah lusuh, diwariskan dari generasi siswa bertahun-tahun lalu.
“Saya melihat salah satu kendala utama pembinaan olahraga di sekolah adalah keterbatasan sarana dan prasarana olahraga,” katanya. “Banyak sekolah, terutama di pedalaman, harus berjuang dengan fasilitas seadanya,” katanya lagi.
Bahkan, banyak sekolah di pedalaman Kabupaten Sintang, lanjut Santosa, yang belum memiliki fasilitas olahraga. Lapangan sepak bola di sekolah di daerah pedalaman bukanlah lapangan dalam pengertian sebenarnya.
Sebagian hanya berupa tanah keras yang retak di musim kemarau, atau becek dan berlumpur ketika hujan turun tanpa ampun. Begitu juga dengan fasilitas olahraga lainnya, seperti ring basket yang miring dan lapangan voli tanpa net.
Bagi sebagian besar siswa di pedalaman, olahraga bukan rutinitas terjadwal, melainkan usaha kecil untuk tetap bergerak di tengah keterbatasan. Mereka berlatih di ruang-ruang sempit yang tersisa, sering kali tanpa alat olahraga yang memadai.
Namun Santosa tahu satu hal, setiap kali anak-anak itu berlari, melompat dan bertanding, ada sesuatu yang sedang tumbuh dalam diri mereka. Kedisiplinan, kerja sama, sportivitas, mental juang, semua itu tak bisa ditanam melalui teori di kelas.
“Olahraga membentuk karakter,” tegasnya.
Ia juga melihat bagaimana sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas olahraga yang lebih lengkap mampu melahirkan potensi besar. Lomba-lomba kecil antarkelas berubah menjadi bibit prestasi. Siswa yang tadinya pemalu mulai berani maju membawa nama sekolahnya. Keluarga bangga, guru bangga, dan sekolah terdorong untuk lebih aktif menciptakan pembinaan.
Di balik pernyataan Santosa, tersirat satu pesan, Sintang punya banyak anak dengan bakat, tetapi tanpa dukungan, bakat hanya menjadi cerita yang tak pernah diselesaikan. “Pembinaan olahraga bagi siswa harus lebih digencarkan agar anak mencintai olahraga,” ucap Santosa.
Santosa percaya bahwa perubahan tetap mungkin dilakukan. Ia mendorong Pemkab Sintang untuk memberi perhatian lebih dalam menyediakan fasilitas olahraga yang layak. Tak hanya itu, ia menyemangati sekolah agar tak ragu mencari terobosan: mengajukan proposal ke pemerintah daerah, menggandeng alumni, atau bermitra dengan perusahaan yang ingin berkontribusi lewat sponsorship.
Lebih jauh, ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah memberikan beasiswa khusus bagi para siswa berprestasi di bidang olahraga, sebuah bentuk penghargaan sekaligus motivasi agar impian mereka terus tumbuh.
Dalam pandangan Santosa, gerakan membudayakan olahraga tidak boleh berhenti di sekolah. Ia ingin setiap rumah, kampus, komunitas, hingga kantor, menjadi ruang yang mendorong masyarakat untuk bergerak, berlari, dan beraktivitas fisik.
“Olahraga adalah jalan untuk membentuk generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara fisik, berkarakter, dan punya jiwa patriotisme,” tuturnya.
Seruan itu bukan hanya sekadar imbauan formal seorang pejabat daerah. Di baliknya, ada harapan besar, bahwa suatu hari, anak-anak Sintang dapat tumbuh dalam lingkungan yang memberi mereka ruang untuk bermain, berlatih, dan bermimpi. Bahwa olahraga bukan lagi dianggap pelengkap, tetapi jembatan menuju masa depan yang lebih sehat, kuat, dan membanggakan.
Ia berharap Pemkab Sintang lebih serius melihat ini sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek sarana, tetapi bagian dari pembangunan manusia.
“Kalau fasilitas ini benar-benar kita prioritaskan, saya yakin sekolah-sekolah bisa memacu prestasi mereka,” ujarnya.
Pada akhirnya, seruan itu bukan hanya soal lapangan atau bola.
Ini tentang masa depan anak-anak yang sedang tumbuh, berharap, dan memerlukan ruang untuk belajar menang, kalah, bangkit, lalu mencoba lagi.
