Sintang, Kalbar – Proyek pembangunan harus segera dimulai diawal tahun. Begitu desakan Ketua Komisi A DPRD Sintang, Santosa. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, diawal tahun semua masih diam. Proyek-proyek selalu kejar tayang diakhir tahun.
“Harusnya setiap tahun, lelang proyek mulai dilaksanakan diawal tahun,” ujarnya dengan suara menahan kecewa. “Tapi setiap awal tahun proses lelang belum juga bergerak.”
Kalimat itu meluncur seperti keluhan lama yang kembali diputar ulang. Tahun-tahun sebelumnya, alasan selalu sama yaitu cuaca, dokumen, koordinasi, dan berbagai hal yang tak pernah selesai. Namun kali ini ada sesuatu yang lebih mengganjal karena semua persiapan sudah dilakukan sejak November, tetapi hasilnya tak berbeda.
Dia mengatakan, DPRD telah mengorbankan waktu dan energi untuk mempercepat penetapan APBD. Permintaan itu datang langsung dari Pemkab Sintang, dengan janji bahwa percepatan akan membuat proses lelang berjalan lebih mulus. “Supaya panitia lelang bisa terbentuk lebih cepat,” begitu alasannya waktu itu.
Namun setengah tahun berlalu, janji itu tidak terlihat jejaknya. Santosa menghela napas setiap kali membayangkan seluruh rangkaian pembangunan yang seharusnya sudah berjalan, namun kini masih tenggelam dalam tumpukan berkas yang belum bergerak.
“Sampai pertengahan tahun, terkadang proyek penunjukan langsung saja belum jalan,” katanya. “Apalagi lelang.”
Di balik nada suaranya, tersimpan kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami betapa berharganya waktu dalam proses pembangunan.
Di banyak daerah, memulai proyek di pertengahan tahun mungkin bukan masalah besar. Tetapi di Sintang, waktu adalah penentu kualitas. Jika pekerjaan dimulai saat hujan mulai turun, maka semua bayangan pembangunan ideal akan runtuh, terseret oleh lumpur di sepanjang jalan pedesaan.
“Pembangunan jalan tidak bisa dipaksakan saat hujan,” tegas Santosa. “Nanti hasilnya buruk, cepat rusak.”
Jalan tanah yang membelah pedalaman Ketungau, Kayan, dan Ambalau bukan sekadar jalur transportasi. Itu adalah nadi kehidupan. Ketika jalan rusak, harga barang naik, siswa sulit ke sekolah, petani dan pedagang merugi. Satu kali keterlambatan lelang bisa berarti satu tahun penuh akses warga terbatas. “Itu sedang terjadi di depan mat akita,” katanya.
Pemkab Sintang tahu betul dirinya tidak kaya anggaran. APBD terbatas, sementara kebutuhan fisik luar biasa besar. Jalan, jembatan, drainase, semuanya membutuhkan perhatian. Tapi jika lelang tertunda, anggaran yang kecil itu justru berisiko sia-sia.
“Anggaran fisik kita kecil. Kalau prosesnya lambat, pembangunan tidak akan terlihat,” ungkap Santosa.
Setiap tahun, masyarakat menunggu perubahan kecil, sepotong jalan yang diperbaiki, jembatan lama yang diganti, atau parit tersumbat yang dinormalisasi. Namun semua itu tergantung pada satu proses penting yang kini terhambat yaitu lelang.
Santosa menegaskan bahwa Pemkab harus segera menemukan apa yang menyebabkan proses lelang selalu melambat.
“Cari tahu apa yang menghambat,” ujarnya tegas. “Kalau kurang tenaga teknis, bilang. Kalau dokumen belum siap, evaluasi. Jangan diam.”
Ia tidak bicara tentang sekadar proyek. Ia bicara tentang harapan masyarakat, tentang kualitas hidup, tentang masa depan kabupaten yang luas namun tertinggal dalam ritme pembangunan.
Meskipun kecewa, Santosa tidak kehilangan keyakinan bahwa perubahan masih mungkin terjadi, asal Pemkab benar-benar mau melakukan evaluasi serius.
“Kalau lelang dipercepat dan dilakukan diawal tahun, masih ada kesempatan pekerjaan dimulai sebelum hujan,” katanya. “Ini semua untuk masyarakat.”
Di luar gedung dewan, angin Sintang bergerak pelan, seperti membawa pesan bahwa waktu memang tidak pernah berhenti. Ia hanya menunggu siapa yang mampu menjemputnya dengan kerja nyata.
