Dewan Sintang Ingin ASN Lebih Profesional Setelah Profiling

Sintang, Kalbar — Pemerintah daerah dituntut membangun birokrasi yang lebih adaptif, profesional, dan responsif terhadap kebutuhan publik. Persoalannya, tuntutan tersebut tidak bisa dipenuhi hanya dengan menambah regulasi atau memperketat aturan. Kunci sesungguhnya terletak pada kualitas manusia yang menjalankan pemerintahan itu sendiri yaitu para Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dalam konteks inilah kegiatan profiling ASN hadir sebagai langkah strategis yang mulai mendapatkan perhatian serius dari berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sintang. Bagi Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, pemetaan kompetensi ASN bukan lagi sekadar kebutuhan administratif, tetapi fondasi utama untuk membangun birokrasi yang tangguh. Ia menyebut profiling sebagai “investasi jangka panjang yang menentukan masa depan pembangunan daerah”.

“Profiling ASN adalah kebutuhan, bukan pilihan. Ini fondasi untuk memastikan setiap pegawai ditempatkan sesuai kemampuan dan potensi,” tegas Santosa. “Kalau kapasitas ASN terukur dan pemetaannya tepat, pelayanan publik akan meningkat, kebijakan menjadi lebih efektif, dan pembangunan daerah berjalan lebih terarah.”

Santosa menegaskan birokrasi tidak lagi bisa dikelola dengan pola masa lalu. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan ekspektasi masyarakat terhadap layanan publik kian tinggi.

Profiling ASN, menurutnya, adalah jembatan menuju transformasi birokrasi modern, mulai dari pemetaan kemampuan teknis, kepribadian, manajerial, hingga rekam jejak kerja.

“Sering kita dengar keluhan tentang pelayanan lambat atau program pemerintah yang tidak berjalan maksimal,” ujarnya. “Tetapi akar masalahnya kadang sederhana, penempatan pegawai tidak sesuai kompetensi. Ada lulusan pendidikan sosial tetapi bekerja di bidang kesehatan. Ada yang punya kemampuan komunikasi bagus tetapi diposisikan di bidang teknis.”

Ia meyakini, kesalahan penempatan seperti itu akan semakin berkurang bila pemerintah memiliki data profiling yang lengkap dan akurat. Selain menguntungkan organisasi, pemetaan kompetensi juga memberi keadilan bagi ASN. Mereka akan memperoleh ruang pengembangan diri yang tepat sasaran.

Mengakhiri Penempatan yang Tidak Tepat Sasaran

Dalam beberapa tahun terakhir, Santosa melihat fenomena serupa di berbagai OPD: pegawai yang sebenarnya punya kemampuan unggul tidak diberdayakan secara optimal karena kurangnya data komprehensif terkait kompetensi mereka. Padahal, potensi SDM pemerintah daerah sangat besar.

“Profiling ASN ini memungkinkan pemerintah melihat secara jelas siapa cocok untuk posisi apa, siapa butuh pelatihan tambahan, dan siapa yang layak dipromosikan,” kata Santosa. “Ini mengurangi subjektivitas dan memastikan mutasi atau promosi berjalan lebih objektif.”

Salah satu poin penting yang ditekankan Santosa adalah pentingnya profiling sebagai alat untuk menyusun rencana pelatihan ASN. Selama ini, pelatihan sering kali diberikan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan individu pegawai.

“Padahal kemampuan ASN itu berbeda-beda,” ujar Santosa. “Pelatihan yang disamaratakan sering tidak efektif. Dengan profiling, program pengembangan akan lebih tepat sasaran.”

Ia memberi contoh konkret, ASN yang unggul dalam analisis data dapat mengikuti pelatihan digitalisasi pemerintahan, sementara ASN yang punya bakat kepemimpinan bisa diarahkan pada pelatihan manajerial atau komunikasi publik.

Pendekatan personal seperti ini, menurut Santosa, tidak hanya mengembangkan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat kemampuan organisasi menghadapi tantangan masa depan.

Tantangan terbesar birokrasi saat ini adalah digitalisasi layanan. Pemerintah dituntut mengintegrasikan berbagai sistem, mempersingkat proses layanan, dan menghadirkan kemudahan akses bagi masyarakat. Semua itu membutuhkan ASN yang melek teknologi.

“Profiling adalah titik awal untuk mengetahui sejauh mana ASN siap menghadapi era digital,” kata Santosa. “Kalau hasil pemetaan menunjukkan banyak pegawai belum mahir menggunakan teknologi, pemerintah bisa menyusun pelatihan digital secara masif.”

Ia juga menilai Pemerintah Kabupaten Sintang memiliki komitmen kuat dalam membangun birokrasi modern. Namun, komitmen itu harus dibarengi dengan data SDM yang akurat agar langkah pembenahan lebih terarah.

Santosa menegaskan bahwa DPRD Kabupaten Sintang, terutama komisi yang membidangi pemerintahan, memberikan dukungan penuh agar profiling ASN tidak berhenti sebagai aktivitas formal atau proyek sesaat.

“Kami ingin memastikan profiling menjadi sistem yang dijalankan secara rutin, bukan kegiatan sekali jalan,” tegasnya. “Kalau dilakukan berkala, perkembangan kompetensi ASN bisa dipantau dengan baik.”

DPRD juga mendorong transparansi dalam penggunaan hasil profiling, terutama dalam proses mutasi, pengisian jabatan, promosi, hingga pengembangan karier. Transparansi ini penting untuk membangun kepercayaan ASN terhadap sistem manajemen SDM.

Pada akhirnya, semua upaya ini bermuara pada satu tujuan besar: meningkatkan kualitas pelayanan publik. Bagi Santosa, kualitas ASN adalah representasi langsung dari kualitas pemerintah.

“Kita ingin ASN yang bukan hanya bekerja, tetapi paham esensi pelayanan publik: cepat, tepat, dan berintegritas,” tegasnya. “Profiling membantu pemerintah mencapai tujuan itu.”

Ia menyebut masyarakat kini menuntut layanan yang tidak berbelit, transparan, dan berbasis teknologi. Tanpa peningkatan kompetensi ASN, tuntutan itu sulit dipenuhi.

Sebagai anggota DPRD yang aktif mendorong reformasi birokrasi, Santosa melihat profiling ASN sebagai langkah transformasi besar. Bukan proyek jangka pendek, melainkan pondasi untuk membangun birokrasi profesional di masa depan.

“Kalau ASN kita kompeten dan ditempatkan sesuai kemampuan, Sintang akan punya birokrasi yang kuat menghadapi tantangan apa pun,” ujarnya. Ia juga mengajak seluruh ASN untuk melihat kegiatan ini sebagai peluang, bukan ancaman.

“Profiling bukan untuk mencari kelemahan, tapi untuk menemukan potensi. Semua ASN punya peluang untuk berkembang,” tutupnya.

Dengan dukungan DPRD, komitmen pemerintah daerah, dan partisipasi ASN, upaya membangun birokrasi tangguh di Sintang bukan lagi sekadar wacana, tetapi perjalanan nyata menuju pelayanan publik yang berkualitas dan pembangunan yang semakin terarah.

SebelumnyaPotensi Desa Menunggu Dijemput Kades
SelanjutnyaMenjaga Masa Depan Generasi Sintang dari HIV AIDS