Sintang — Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Rumpak, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah daerah membentuk Desa Siaga TBC di seluruh wilayah Sintang. Menurutnya, langkah ini mendesak dilakukan mengingat kasus tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Rumpak menegaskan bahwa setiap desa di Sintang harus memiliki kesiapsiagaan dalam pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan TBC. Ia menilai penyakit ini tidak boleh dianggap remeh, karena tingkat penularannya tinggi dan risiko komplikasinya dapat mengancam jiwa apabila tidak ditangani secara tepat.
“Semua desa harus siaga TBC. Ini bukan penyakit biasa. Penularannya cepat, dampaknya fatal, dan masyarakat wajib memeriksakan diri begitu merasakan gejala. Jangan sampai TBC dibiarkan tanpa pengobatan, karena ini membahayakan keluarga dan lingkungan,” tegas Rumpak.
DPRD Sintang, kata dia, mendukung penuh kebijakan Dinas Kesehatan yang tengah mengintensifkan program penanggulangan TBC melalui edukasi, penyediaan layanan kesehatan dasar, serta koordinasi lintas sektor termasuk pemerintah kecamatan dan desa. Menurut Rumpak, pembentukan Desa Siaga TBC dapat mempercepat deteksi kasus, memperkuat jejaring kesehatan desa, serta mendorong masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri.
Ia menjelaskan bahwa masih banyak masyarakat yang mengabaikan gejala TBC seperti batuk lebih dari dua minggu, demam, keluar keringat malam, dan penurunan berat badan. Minimnya kesadaran ini membuat banyak penderita terlambat mendapat pengobatan.
“TBC itu bisa disembuhkan. Pemerintah sudah menyediakan layanan gratis. Yang penting masyarakat mau periksa dan menjalani pengobatan sampai tuntas. Desa harus aktif mengajak warganya,” jelasnya.
Rumpak juga meminta para kepala desa, kader kesehatan, posyandu, dan RT/RW berperan aktif dalam sosialisasi dan pemantauan di lapangan. Ia menilai bahwa keberadaan kader desa sangat strategis dalam melaporkan gejala mencurigakan kepada puskesmas serta mendampingi warga yang tengah menjalani terapi.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa mengabaikan satu kasus TBC dapat membuka peluang penularan lebih luas di masyarakat. “Jika satu kasus tidak ditangani, risiko penyebaran ke anggota keluarga dan tetangga sangat tinggi. Ini harus jadi perhatian bersama,” tambah Rumpak.
Dinas Kesehatan Sintang sebelumnya menyebutkan bahwa kasus TBC di kabupaten ini masih tergolong tinggi. Program intervensi desa menjadi salah satu strategi untuk menekan angka penularan dengan mendorong masyarakat aktif memeriksakan diri dan rutin mengonsumsi obat.
Rumpak berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja bersama untuk mewujudkan desa-desa di Sintang sebagai kawasan yang peduli dan responsif terhadap TBC.
“Kami di DPRD siap mendukung dan mengawal program ini. Demi kesehatan masyarakat, semua pihak harus bergerak,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga disiplin dan kesadaran masyarakat.
“TBC bukan aib. Segera periksa, jalani pengobatan, dan jangan berhenti sebelum dinyatakan sembuh. Desa siaga TBC adalah langkah penting demi masa depan Sintang yang lebih sehat,” pungkasnya.
