Jembatan Melawi Dua Mendesak Dibangun, Jalan Lingkar Jadi Solusi Kemacetan Kota Sintang

Sintang, Kalbar — Di tengah meningkatnya lalu lintas antardaerah, kondisi Jembatan Melawi yang menjadi satu-satunya akses utama benar-benar terasa mengikat mobilitas warga Kota Sintang. Tidak hanya penduduk lokal, kendaraan dari Pontianak maupun Putussibau pun ikut memadati jalur yang melewati jembatan ini. Seakan setiap gelombang aktivitas dari luar kota bermuara pada satu titik: jembatan yang sudah berpuluh tahun memanggul beban lalu lintas Sintang.

Situasi inilah yang membuat pembangunan Jembatan Melawi Dua kian mendesak, sebuah kebutuhan yang menurut banyak pihak sudah tidak bisa lagi menunggu. Salah satunya adalah anggota DPRD Kabupaten Sintang, Erika Daegal Theola, yang menilai bahwa kota ini butuh langkah besar untuk mengurai tekanan lalu lintas yang dari tahun ke tahun semakin tak terbendung.

“Kalau hanya mengandalkan Jembatan Melawi yang ada sekarang, Sintang akan terus terjebak dalam persoalan kemacetan. Apalagi kendaraan dari luar kota, baik dari arah Putussibau maupun Pontianak, semuanya harus masuk ke dalam kota. Ini tidak sehat bagi tata ruang maupun kenyamanan masyarakat,” tegas Erika ditemui usai agenda reses belum lama ini.

Bagi warga yang setiap hari melintas, kemacetan di jembatan itu bukan lagi kejadian luar biasa. Pada jam kerja, antrean kendaraan bisa mengular hingga ratusan meter. Bus antarkota, truk bermuatan berat, hingga kendaraan pribadi tumpah ruah tanpa celah.

Di sisi lain, keberadaan pasar, sekolah, serta pusat aktivitas ekonomi yang berdempetan di sekitar kawasan jembatan memperparah situasi. Ritme pergerakan orang dan barang bertemu dalam satu jalur sempit yang tidak pernah sepi.

“Setiap pagi, kita seperti menyaksikan kondisi yang sama: kendaraan berhenti, jalan merayap, orang-orang menunggu. Itu tanda bahwa sistem transportasi kita sudah tidak mampu menampung beban yang ada,” lanjut Erika.

Ia menilai, jika tidak segera dibangun infrastruktur alternatif, maka kemacetan bukan hanya menjadi isu kenyamanan, melainkan menghambat pertumbuhan ekonomi Sintang sendiri.

Wilayah Sintang memegang posisi geografis strategis. Kota ini menjadi titik simpul yang menghubungkan jalur dari Pontianak ke Putussibau atau sebaliknya. Karena belum ada jalur alternatif, kendaraan berat dan logistik harus melewati pusat kota.

Keadaan ini membuat beban jembatan meningkat drastis, dan tekanan terhadap badan jalan di perkotaan tak terhindarkan. Kerusakan jalan kerap muncul di sejumlah titik, memperlambat arus lalu lintas dan menambah biaya perawatan yang tidak sedikit.

“Sintang ini daerah transit sekaligus pusat aktivitas. Tapi infrastruktur penunjangnya belum mengikuti perkembangan arus barang dan manusia. Kita harus berani melakukan terobosan besar. Jembatan baru itu kebutuhan mendasar, bukan sekadar proyek pelengkap,” ujar Erika.

Selain mendesak pembangunan Jembatan Melawi Dua, Erika juga memberi perhatian serius pada perlunya pembangunan jalan lingkar luar kota (outer ring road). Jalur ini dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk memindahkan arus kendaraan besar agar tidak harus masuk ke pusat Kota Sintang.

Menurutnya, tanpa jalan lingkar, keberadaan jembatan kedua tidak akan maksimal. Arus kendaraan berat tetap akan mencari rute tercepat, dan selama itu melewati inti kota, Sintang akan terus menghadapi tekanan kemacetan.

“Solusi itu harus terpadu. Jembatan Melawi Dua dibangun, tapi juga harus ada ring road. Dengan begitu, kendaraan dari Pontianak yang hendak menuju Putussibau tidak perlu masuk kota. Juga sebaliknya. Kota jadi lebih tenang, lebih manusiawi, dan pertumbuhan jadi tertata,” kata Erika.

Usulan ini juga selaras dengan berbagai masukan masyarakat yang menginginkan kota yang lebih ramah dan teratur. Pertumbuhan ekonomi memang penting, tetapi kenyamanan hidup warga tidak boleh dikorbankan.

Bagi pelaku usaha, keberadaan jembatan kedua dan jalan lingkar akan membuka peluang baru. Waktu tempuh yang lebih cepat akan menurunkan biaya logistik, sementara pusat kota dapat dikembangkan untuk kegiatan ekonomi yang lebih terarah, seperti perdagangan, kuliner, jasa, dan pariwisata.

Sementara itu, kawasan luar kota berpotensi berkembang menjadi pusat industri baru, mengikuti alur ring road yang akan menjadi koridor pertumbuhan ekonomi masa depan.

Di sisi sosial, warga mendapat ruang kota yang lebih manusiawi: jalan lebih lengang, kualitas udara lebih baik, serta risiko kecelakaan menurun. Lingkungan pun lebih tertata karena lalu lintas berat tidak lagi masuk permukiman padat.

Erika menegaskan bahwa suara warga tersebut harus didengar dan diwujudkan dalam kebijakan konkret.

“Kami di DPRD sudah mendorong pemerintah daerah untuk memperjuangkan proyek ini ke pusat. Saya yakin, kalau Sintang ingin maju, infrastruktur dasarnya harus dituntaskan dulu. Jembatan kedua dan ring road adalah fondasinya,” tegasnya.

Pembangunan Jembatan Melawi Dua dan jalan lingkar luar kota bukan sekadar proyek fisik, ia adalah kebutuhan mendesak untuk masa depan Sintang.

SebelumnyaDewan Dukung Pemkab Sintang Terapkan Manajemen Talenta
SelanjutnyaDampingi Anak Mengenal Gadget