Sintang, Kalbar — Kondisi jalan yang berlubang di Kota Sintang kembali jadi sorotan. Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Erika Daegal Theola, mendesak agar Pemerintah Kabupaten Sintang segera memperbaiki ruas-ruas jalan dalam kota yang berlubang, seperti di Jalan PKP Mujahidin, dengan memanfaatkan dana dari Unit Pemelihara Jalan dan Jembatan (UPJJ). Lubang besar di jalan tersebut dinilai mengancam keselamatan pengendara.
Menurut Erika, kondisi jalan berlubang bukan hanya soal estetika atau kenyamanan, tetapi soal nyawa. “Banyak pengendara hampir jatuh, terutama pengguna sepeda motor. Jika tidak segera diperbaiki, jangan sampai ada korban,” katanya tegas.
Ketika musim hujan, lubang-lubang itu berubah menjadi jebakan tak kasat mata, tertutup genangan air, sehingga pengendara tidak bisa memperkirakan kedalamannya. Banyak yang menuturkan bahwa lubang kecil pun bisa berakibat fatal jika kena secara tidak sengaja.
Pemerintah Kabupaten Sintang sebenarnya sudah menegaskan bahwa perbaikan jalan merupakan prioritas. Salah satu langkah nyata adalah rencana penambahan tiga set alat berat milik UPJJ pada tahun 2026 mendatang,sebagai bagian dari program pemeliharaan jalan dan jembatan.
Saat ini, Pemkab hanya memiliki empat set alat berat, dan salah satunya sudah tidak berfungsi. Itu membuat pekerjaan perbaikan jalan di seluruh wilayah kabupaten yang membentang luas, sulit dilakukan secara cepat dan menyeluruh.
Namun, bagi banyak warga Kota Sintang, rencana tersebut belum cukup. Perbaikan di jalan-jalan dalam kota yang seharusnya menjadi prioritas. Sehingga potensi kecelakaan akibat infrastruktur buruk terus mengintai.
Erika Daegal Theola mendesak Pemkab untuk segera menggunakan dana UPJJ, tanpa menunggu program besar, demi memperbaiki ruas-ruas rusak di dalam kota. Ia menekankan bahwa keselamatan warga harus jadi acuan utama, bukan sekadar perhitungan anggaran.
Dia mengingatkan bahwa infrastruktur jalan yang buruk bukan hanya menghambat aktivitas sehari-hari seperti mobilitas menuju sekolah, pasar, atau kantor, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. Perbaikan mendesak, menurutnya, harus dilakukan secepat mungkin.
“Jangan sampai kita menunggu sampai ada korban,” ujarnya. Permintaan ini didasarkan pada aspirasi warga yang terus mengeluh, dan fakta bahwa kerusakan jalan bukanlah fenomena baru di Sintang.
