Sintang, Kalbar – Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Santosa, adalah sosok yang sudah sangat dikenal oleh para dokter, perawat, staf, hingga Direktur RSUD Ade M Djoen Sintang. Bukan karena tugas kedinasan, melainkan karena komitmen kemanusiaan yang telah dilakoninya sejak enam tahun terakhir. Ia hampir setiap hari berada di rumah sakit untuk mengurus masyarakat yang membutuhkan pertolongan, khususnya warga di daerah pemilihannya, Kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Hulu.
“Rumah sakit itu sudah sangat familiar dengan saya. Direktur rumah sakit, dokter, perawat, semua staf di sana sudah kenal,” ujar Santosa. “Karena selama enam tahun saya menjabat sebagai anggota DPRD Sintang, saya memang paling sering ke rumah sakit. Ini komitmen saya untuk masyarakat, dan ini panggilan jiwa,” katanya lagi.

Baginya, urusan membantu masyarakat sakit bukanlah kerja formal sebagai pejabat publik. Itu adalah panggilan kemanusiaan. Ia meyakini bahwa orang sehatlah yang mampu menolong mereka yang sakit, bukan sebaliknya. Karena itu, setiap bulan ia bisa mengunjungi rumah sakit hingga 20 kali. Bahkan tak jarang, dalam satu hari ia datang dua hingga tiga kali.
Kadang-kadang empat kali dalam sehari, jika ada warga yang benar-benar memerlukan pertolongan cepat. “Tanya saja dokter, perawat, direktur rumah sakit. Sudah biasa lihat saya datang berulang-ulang,” ungkapnya.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pedalaman yang sebagian besar warga kategorinya masih awam terhadap prosedur layanan kesehatan, Santosa menjadi tumpuan harapan. Banyak keluarga yang tak paham bagaimana mengurus pendaftaran pasien, mengaktifkan BPJS, atau berkomunikasi dengan pihak rumah sakit.
“Masyarakat Kayan kalau sakit biasanya mencari saya. Mereka minta tolong, terutama yang awam soal rumah sakit,” katanya. Ada yang tidak tahu cara mendaftar berobat, ada yang belum memiliki BPJS kesehatan, ada pula yang tak mampu membayar biaya perawatan. Bagi Santosa, semua itu menjadi tanggung jawab moralnya.
Ia membantu masyarakat mendaftar BPJS, karena tanpa itu pelayanan kesehatan tanpa biaya akan sulit diakses. Namun kebijakan BPJS mensyaratkan waktu aktif 14 hari setelah pendaftaran. Ini tentu menyulitkan masyarakat miskin yang saat itu juga butuh pelayanan.
Untungnya, kata Santosa, Pemerintah Kabupaten Sintang memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat kurang mampu. Direktur RSUD dan jajaran rumah sakit juga selalu membuka pintu solusi.
“Kalau masyarakat benar-benar tidak mampu, bisa kita bantu lewat kebijakan pasien khusus yang ditanggung oleh pemerintah daerah melalui dana rumah sakit,” jelasnya. “Biayanya ditanggung semua, memang khusus untuk masyarakat tidak mampu.”

Selain itu, solusi lain datang dari Dinas Sosial. Masyarakat dengan kategori miskin dapat diusulkan dibuatkan BPJS dengan status peserta APBD. “Aktifnya di awal bulan, dan mereka tidak bayar premi karena ditanggung daerah,” terang Santosa. “Biasanya saya yang bantu mengurus itu karena masyarakat benar-benar tidak punya uang.”
Mengurus Obat, Fasilitas, hingga Pendonor Darah
Tak hanya soal administrasi, banyak pula warga yang meminta bantuan untuk mengakses obat tertentu, layanan rawat inap yang lebih baik, hingga ruang VIP. Santosa tak menampik bahwa permintaan semacam ini sering datang dari masyarakat yang memiliki dana terbatas namun butuh pelayanan lebih layak.
Ada pula masalah penting lain: ketersediaan darah. Karena itu Santosa memiliki staf khusus bernama Memet yang setiap saat siap mencari pendonor. “Kalau ada warga butuh darah, Memet yang urus. Dia cari siapa saja yang bisa donor, ke mana pun dia hubungi,” jelasnya.
Selain Memet, Santosa juga memiliki staf bernama Joko. Tugasnya mengurus administrasi kependudukan, seperti penerbitan dokumen untuk persyaratan pembuatan BPJS atau keperluan lain. “Kalau yang capil, Joko yang berkomunikasi. Jadi semua sudah ada perannya masing-masing untuk bantu warga yang sakit,” ujarnya.
Panggilan Hati, Bukan Pencitraan
Bagi Santosa, apa yang ia lakukan bukan sekadar tugas, apalagi sebagai strategi politik. Ia menyebutnya sebagai panggilan hati. “Kalau sudah panggilan hati itu susah dilawan,” sambungnya. “Saya punya prinsip, kita yang sehatlah yang bisa nolong orang sakit. Nggak mungkin orang sakit mengurus dirinya sendiri. Apalagi masyarakat yang tidak mampu.”
Ia menyadari bahwa sebagian masyarakat di daerah pedalaman masih belum memahami sistem kesehatan modern. Ketika sakit, langkah pertama yang mereka lakukan adalah datang meminta bantuan.
Karena itu baginya, turun langsung adalah bentuk nyata amanah sebagai wakil rakyat. Ia ingin memastikan tidak ada warga, terutama dari Kayan Hilir dan Kayan Hulu, yang terabaikan hanya karena ketidaktahuan prosedur atau ketiadaan biaya.
Dedikasi Santosa memperlihatkan sisi lain peran anggota DPRD. Ia hadir bukan hanya di ruang rapat dan meja pembahasan anggaran, tetapi di lorong-lorong rumah sakit, mendampingi mereka yang sedang berjuang melewati masa sakit.
Di tengah keterbatasan daerah, solidaritas kemanusiaan menjadi pintu utama. Dan di RSUD Sintang, langkah kaki Santosa yang nyaris setiap hari datang, menjadi saksi bahwa tujuan menjadi wakil rakyat bukan hanya berbicara, tetapi hadir bersama mereka yang membutuhkan.
