Minyak Goreng Langka di Sintang, Bupati Gelar Sidak

141

Sintang, Kalbar – Bupati Sintang yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus J memimpin jajaran Pemerintah Kabupaten Sintang untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa toko, gudang dan agen sembako di Kota Sintang, Jum’at, (4/3). Sidak dilakukan untuk menanggapi keluhan masyarakat dan informasi kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng di Kabupaten Sintang.

Turut mendampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Yustinus J pada sidak tersebut adalah Arbudin, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Perwakilan Kejaksaan Negeri Sintang, Polres Sintang, Kodim 1205 Sintang dan Perwakian Organisasi Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sintang.

Sidak dilakukan di 7 toko dan 1 distributor minyak goreng. Kemudian, hasil sidak ke toko dan gudang sembako menunjukan stok minyak goreng kosong. Sedangkan di distributor juga kosong namun sudah mengajukan permintaan kepada produsen minyak goreng. Tujuh pemilik toko yang disidak oleh tim mengaku stok minyak goreng sudah kosong dan tidak ada mendapatkan kiriman stok sejak seminggu. Untuk memastikan tidak ada penimbunan, tim juga sempat melihat langsung gudang penyimpanan barang di 7 toko tersebut. Hasilnya, gudang penyimpanan memang dalam keadaan kosong.

Tim melakukan sidak di Distributor Wilmar CV Sarana Makmur Sentosa di Jalan MT Haryono. Tim diterima oleh Zul Susanto pimpinan perusahaan, kepada Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang Yustinus J dan rombongan.

Pimpinan Perusahaan CV Sarana Makmur Sentosa, Zul Susanto mengatakan, bahwa berkurangnya pasokan minyak goring terjadi sejak Januari 2022 yang lalu hingga sekarang.

“Kami memang distributor minyak goreng untuk Kabupaten Sintang dan Kabupaten Melawi. Masalahnya, kita terkendala di stok. Pihak Wilmar juga membatasi pengiriman ke kami.  Bulan Maret 2022 ini saja, kami baru mendapatkan kiriman 1.500 dus dan sudah saya distribusikan merata, setiap toko saya kasih 5 dus saja. Saya sudah mengajukan untuk mendapatkan pengiriman kembali. Informasinya akan dapat pada tanggal belasan Maret ini,” jelasnya.

Ia mengatakan, pendistribusian dilakukan secara  merata dan per hari ini sudah habis stok karena terakhir sudah dikirim ke Sepauk.

“Barang yang datang, harus habis dalam 1 x 24 jam. Jadi, kalau minyak datang, langsung kami distribusikan dengan harga mengikuti harga pemerintah. Kami jual ke toko itu dengan harga modal untuk minyak goreng premium adalah 13 ribu per liter. Sehingga toko bisa jual 14 ribu per liter,” ungkap Zul.

Selanjutnya, dia mengungkapkan, bahwa selalu ditelpon toko soal stok minyak goreng. Pihak Wilmar pernah menjanjikan 2. 250 dus per minggu, tapi kenyataan tidak seperti itu. Terjadi penundaan pengiriman. Tanggal belasan maret nanti akan tiba dari Surabaya sebanyak 1 kontainer minyak goreng atau setara dengan 16 ton atau 1.500 dus.

“Nanti kalau sudah datang, akan langsung saya distribusikan ke toko toko. Sejak kelangkaan ini, datang 1 truk, 2 hari langsung habis. Karena,tidak semua toko merupakan pelanggan kami. Ada juga yang mendapatkan kiriman dari Pontianak sesuai mitra mereka sehingga kalau ada yang mahal di toko, belum tentu minyak goreng tersebut berasal dari kami,” ucapnya.

Zul mengatakan, terkadang minyak goreng yang datang, tidak langsung masukan ke gudang, tapi langsung turunkan ke mobil kecil dan didistribusikan ke toko.

“Saya selalu sampaikan informasi kekurangan stok minyak goreng di Sintang kepada pihak Wilmar. Kami selalu berkomunikasi dengan produsen,” ujarnya.

Yustinus J menyampaikan, memang penyebab kelangkaan minyak goreng ini bukan berada di wilayah Kabupaten Sintang, melainkan dari produsen minyak goreng yang memang membatasi atau mengurangi pengiriman ke Sintang.

“Dari pabrik memang mengurangi pengiriman. Maka, kami sudah sampaikan kepada agen dan distributor untuk terus menerus berkomunikasi dengan produsen soal kebutuhan minyak goreng untuk Kabupaten Sintang. Pihak distributor sudah memesan 4 kontainer minyak goreng, tetapi yang sudah dikirim tidak maksimal. Kami minta kepada distributor dan toko-toko untuk tidak menaikan harga dan jangan coba-coba menimbun,” jelasnya.

Sementara,  Arbudin Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menyampaikan kelangkaan minyak goreng ini terjadinya karena pembatasan pengiriman dari Pontianak.

“Kami akan berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk terus menambah stok minyak goreng untuk Kabupaten Sintang. Kami juga mendorong Pemprov Kalbar untuk berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan di Jakarta soal kebutuhan minyak goreng. Droping minyak goreng dari pusat harus terus ditambah untuk daerah dalam hal ini Kabupaten Sintang,” pungkasnya.