Pelaku Usaha Kecil Sintang di Tengah Keterbatasan

Sintang, Kalbar — Di berbagai sudut Kota Sintang, geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin terasa. Mulai dari pedagang makanan kaki lima di kawasan Taman Entuyut dan di Eks Lapangan Terbang Susilo, perajin rotan di Binjai Hilir, hingga penjual kue tradisional di tepian Sungai Kapuas; semua bergerak, bekerja, dan berupaya mempertahankan hidup di tengah tekanan ekonomi yang terus berubah. Keberadaan mereka bukan sekadar aktivitas ekonomi kecil, tetapi denyut nadi perekonomian Sintang yang sesungguhnya.

Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Erika Daegal Theola, menyebut UMKM sebagai “garda terdepan” ekonomi daerah. Baginya, peran UMKM bukan hanya signifikan, tapi sangat vital dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, terutama di saat situasi ekonomi masih belum sepenuhnya pulih pasca pandemi dan krisis global beberapa tahun terakhir.

“Saya melihat jumlah UMKM di Sintang semakin banyak. Peran mereka dalam menciptakan lapangan kerja cukup besar,” ujar Erika. Menurutnya, sektor UMKM adalah penyelamat ekonomi lokal di masa-masa sulit ketika banyak sektor besar terpuruk.

Ketika sektor-sektor besar membutuhkan waktu panjang untuk bangkit kembali, UMKM justru bergerak lebih cepat. Dengan skala usaha yang relatif kecil, para pelaku UMKM lebih lincah dalam beradaptasi terhadap perubahan pasar, kebutuhan pelanggan, hingga fluktuasi harga bahan baku.

“UMKM itu fleksibel dan cepat merespons perubahan. Dengan dukungan pemerintah yang optimal, mereka bisa tumbuh lebih kuat,” ujar Erika.

Kekuatan utama UMKM terletak pada kemampuannya memanfaatkan peluang kecil menjadi sumber penghasilan. Baik itu ibu rumah tangga yang memproduksi keripik pisang, pedagang bakso gerobak, penjahit pakaian rumahan, hingga petani yang menjual hasil olahan produksi sendiri. Di Sintang, UMKM bukan hanya aktivitas ekonomi; ia adalah cara bertahan hidup dan bagian dari budaya kerja keras masyarakat.

Salah satu poin yang digarisbawahi Erika adalah pemerataan pelaku UMKM yang tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan. Justru, sebagian UMKM tumbuh subur di pedesaan dan kecamatan-kecamatan yang jauh dari pusat kota.

“UMKM di Sintang tidak hanya terpusat di perkotaan saja, tapi tersebar ke seluruh pelosok daerah, termasuk pedesaan. Itu memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di daerah-daerah yang belum berkembang secara ekonomi,” katanya.

Ini menandakan bahwa UMKM berperan besar dalam menciptakan pemerataan ekonomi. Di desa-desa, UMKM menjadi solusi bagi masyarakat untuk tetap memperoleh pendapatan tanpa harus bergantung pada sektor formal atau berpindah ke kota.

Bagi banyak keluarga, usaha kecil membantu dapur tetap mengepul dan menyekolahkan anak-anak mereka. Ini adalah inti dari pemberdayaan ekonomi: menciptakan peluang dari bawah dan mendukung kemandirian masyarakat.

Meski pertumbuhan UMKM cukup tinggi, bukan berarti perjalanan mereka mulus tanpa hambatan. Erika menilai bahwa sejauh ini bantuan dari pemerintah daerah masih jauh dari kata ideal.

“Masih banyak pelaku UMKM yang membutuhkan sarana pendukung seperti gerobak untuk berdagang. Sampai saat ini bantuan dari Pemkab Sintang masih sangat minim,” tegasnya.

Bagi pedagang kecil, keberadaan gerobak bukan sekadar alat jualan; ia adalah modal utama. Tanpa gerobak, banyak pelaku usaha harus meminjam, menumpang, atau bahkan menunda berjualan. Ini menjadi persoalan serius, mengingat UMKM adalah sektor dengan ketergantungan tinggi pada fasilitas dasar dan modal kecil.

Erika berharap pemerintah dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk membantu UMKM, terutama bagi pelaku usaha pemula atau mereka yang pendapatannya masih pas-pasan.

“Saya berharap Pemkab Sintang dapat mengalokasikan anggaran untuk memberikan bantuan gerobak kepada para pengusaha UMKM,” ujarnya.

Menurutnya, meski APBD Sintang terbatas, prioritas harus tetap diberikan kepada UMKM karena dampaknya langsung pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Apabila UMKM tumbuh, maka ekonomi daerah ikut bergerak mengikuti.

Erika juga menekankan pentingnya sinergi kolaboratif antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan pihak swasta. Tidak hanya dalam hal permodalan, tetapi juga pelatihan, pendampingan, dan pemasaran produk lokal.

“Tak cukup sampai di situ. Mereka juga harus melek teknologi digital untuk mempermudah pemasaran dan memperluas jangkauan produk tanpa batas geografis,” katanya.

Era digital membuat pasar menjadi lebih luas, namun tidak semua UMKM siap untuk masuk ke ranah online. Banyak di antara mereka yang belum memahami cara menggunakan platform digital untuk menjual produk. Ada pula yang kesulitan membuat dokumentasi produk, foto berkualitas, atau mengelola transaksi online.

Erika berharap ada pusat pelatihan UMKM yang lebih terstruktur, yang dapat memberikan pendampingan berkelanjutan. Tidak hanya sekali, tetapi dibina hingga para pelaku usaha benar-benar mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat ekspansi bisnis.

Bagi Erika, UMKM bukan sekadar sektor kecil yang bekerja sendiri-sendiri. Ia menyebut UMKM sebagai “investasi daerah” yang dalam jangka panjang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Sintang.

“UMKM ini bisa dibilang investasi daerah. Mereka menjadi pilar pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.

Ia menilai Pemkab Sintang harus menyediakan fasilitas pendukung seperti pusat pameran produk lokal, stand UMKM di ruang publik, pasar UMKM modern, hingga pelatihan keterampilan yang berkelanjutan. Infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, jaringan internet di desa, dan ketersediaan listrik yang stabil juga menjadi faktor penting untuk menunjang aktivitas UMKM di berbagai wilayah.

Di lapangan, suara pelaku UMKM di Sintang senada dengan apa yang disampaikan Erika. Banyak dari mereka berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan dasar mereka.

Para pedagang makanan keliling menginginkan gerobak yang layak, penjahit rumahan berharap ada bantuan mesin jahit modern, perajin rotan ingin akses pembelian bahan baku lebih murah, sementara pedagang kuliner membutuhkan pelatihan keamanan pangan untuk meningkatkan standar produk.

Mereka tidak meminta hal yang muluk-muluk. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk bertahan, kesempatan untuk berkembang, dan dukungan untuk meningkatkan daya saing produk.

Tantangan yang dihadapi UMKM mungkin tidak kecil, tetapi masa depan ekonomi Sintang sangat bergantung pada mereka. Dengan jumlah pelaku yang terus bertambah, UMKM membawa harapan baru bagi pembangunan ekonomi daerah.

Apabila pemerintah memberikan dukungan yang proporsional, dan pelaku UMKM mampu berinovasi serta memanfaatkan teknologi, maka pertumbuhan ekonomi daerah tidak hanya terjaga, tetapi akan meningkat lebih pesat.

Pada akhirnya, UMKM bukan hanya sektor ekonomi, tetapi wajah ketangguhan masyarakat Sintang. Mereka adalah bukti bahwa kekuatan ekonomi sesungguhnya berasal dari rakyat yang bekerja dan berusaha tanpa henti. UMKM adalah garda terdepan dan akan tetap menjadi motor penggerak utama bagi kemajuan daerah.

SebelumnyaDewan Dukung Razia Knalpot Brong, Upaya Redam Balap Liar di Sintang
SelanjutnyaBanyak Lampu Jalan Sintang Tak Menyala