Pemetaan Potensi Pertanian Sintang, Kunci Swasembada Pangan

Sintang, Kalbar — Hamparan sawah di pinggir Jalan Sintang–Kelam tampak hijau memanjang. Kelam Permai memang merupakan salah satu kecamatan yang memiliki potensi di sektor pertanian. Potensi tersebut menjadi penopang utama ekonomi penduduknya. Potensi ini harus terus dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Sintang. Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Yulius mengatakan pemetaan potensi lahan pertanian di setiap kecamatan akan menjadi kunci dalam pembangunan ketahanan pangan.

Menurutnya, tanpa peta potensi yang presisi, pembangunan pertanian hanya akan berjalan setengah hati. “Setiap kecamatan punya potensi berbeda-beda. Jenis tanahnya beda, pola tanamnya beda, komoditas unggulannya juga beda. Karena itu, pengembangan harus didasari data yang jelas,” ujarnya.

Ia menilai, pemetaan ini akan mengakhiri pola pembangunan sektor pertanian yang selama ini masih bergerak berdasarkan kebiasaan, bukan kebutuhan dan kekuatan wilayah. “Kalau langkah ini dilakukan dengan benar, petani akan lebih mudah mengelola lahan dan hasil panen bisa dipasarkan secara terarah,” tambahnya.

Hasil publikasi BPS Sintang 2024 menunjukkan bahwa sebagian besar kecamatan memiliki karakter pertanian yang berbeda, baik dari segi lahan, jenis tanaman, maupun volume produksi. Padi tetap menjadi tulang punggung pertanian Sintang, terutama di kecamatan-kecamatan dengan sistem sawah maupun ladang. Tahun 2024, sebagian besar produksi padi terkonsentrasi di Kecamatan Kelam Permai, Kecamatan Dedai, Kecamatan Binjai Hulu dan Kecamatan Tempunak. Untuk lahan sawah eksisting masih didominasi padi ladang, dengan produktivitas yang masih dapat ditingkatkan melalui pola tanam terpadu dan peningkatan sarana irigasi.

BPS Sintang juga merilis data produksi tanaman sayuran dan buah tahunan yang memperlihatkan keunggulan komoditas di tiap wilayah. Antara lain, Dedai untuk komoditas sayuran konsumsi cepat seperti timun, kacang panjang, cabai kecil. Kayan Hilir dan Kayan Hulu berpotensi untuk ditanami sayuran dan buah-buahan tahunan. Kelam Permai menjadi salah satu penghasil cabai dan sayuran pasokan pasar Kota Sintang. Sedangkan Tempunak memproduksi buah-buahan musiman.

Variasi potensi inilah yang menurut Yulius harus dipetakan secara menyeluruh agar daerah mengetahui kecamatan mana yang paling siap menjadi pusat hortikultura.

Data 2024 menunjukkan luas areal perkebunan rakyat Sintang mencapai lebih dari 90 ribu hektare, dengan komoditas terbesar adalah karet, disusul kelapa sawit, lada, dan kopi robusta.

Beberapa kecamatan dengan sentra perkebunan besar antara lain, Ketungau Hilir, Tengah, Hulu,

Sintang Kota dan Sepauk. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Sintang sesungguhnya tidak hanya kuat di tanaman pangan, tetapi juga komoditas ekspor yang berpotensi besar meningkatkan pendapatan petani.

Dalam pernyataannya, Yulius menyinggung fenomena yang selama ini menjadi sorotan, ketergantungan pasokan sayur dari Singkawang dan daerah lain. Padahal secara geografis, Sintang memiliki lahan subur yang mestinya mampu memenuhi kebutuhan sendiri.

“Malu rasanya kalau kita terus bergantung pada pasokan sayur dari Singkawang. Padahal kita punya lahan dan petani, hanya butuh pengelolaan yang tepat,” kata dia.

Ia menjelaskan, dengan pemetaan potensi lahan, pemerintah bisa menentukan komoditas unggulan per wilayah, membangun rantai pasok sayur lokal, dan mengurangi biaya transportasi yang selama ini membebani harga di tingkat konsumen.

 Yulius juga menekankan pentingnya pembentukan kelompok tani di setiap desa. Langkah ini penting untuk memudahkan pendataan produktivitas, penyaluran bantuan, hingga pelatihan.

“Dengan adanya kelompok tani, pemerintah bisa mengetahui tingkat produktivitas tiap wilayah. Tanpa organisasi, semua jadi sulit dipetakan,” tegasnya. Saat ini, beberapa kecamatan yang memiliki kelompok tani aktif, terutama di sektor padi dan hortikultura adalah Kecamatan Tempunak, Kelam Permai, Sepauk, Dedai dan Ketungau Hilir. Namun sebagian wilayah masih membutuhkan pendampingan agar kelompok tani lebih terstruktur dan terintegrasi dengan program pemerintah. Sintang akan sulit mencapai swasembada pangan terutama untuk komoditas sayur harian yang selama ini masih diambil dari luar kabupaten.

“Kalau potensi ini bisa dimaksimalkan, Sintang bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tapi bisa memasok ke daerah tetangga.”

SebelumnyaPemkab Sintang Diminta Rutin Sosialisasikan Bahaya Narkoba
SelanjutnyaSaat Dana Dipangkas, Santosa Minta Inovasi Harus Ditempa