Sintang, Kalbar – Setiap Minggu pagi, lalu lintas di Kota Sintang sebenarnya mulai lengang. Warga sudah banyak yang keluar rumah untuk berbelanja, nongkrong di warung kopi, atau sekadar jalan santai di sekitar lingkungan. Namun, hingga kini Sintang yang berpenduduk lebih dari 440 ribu jiwa itu belum punya kawasan car free day (CFD) resmi seperti Pontianak.
Kondisi inilah yang membuat Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Senen Maryono, mendorong Pemkab Sintang segera menyiapkan satu kawasan khusus CFD setiap hari Minggu. Menurutnya, ruang publik yang bebas kendaraan bukan hanya untuk gaya-gayaan kota, tetapi kebutuhan mendesak masyarakat.
“Saya minta pemerintah kabupaten menyiapkan kawasan car free day setiap hari Minggu. Warga Sintang perlu ruang aman untuk berolahraga, sekaligus bisa menjadi kawasan promosi kuliner seperti di Pontianak,” ujar Senen Maryono di Sintang.
Senen mencontohkan pelaksanaan CFD di Kota Pontianak yang setiap akhir pekan dipadati puluhan ribu warga. Kawasan ini bukan hanya menjadi tempat lari pagi dan bersepeda, tetapi juga sentra UMKM kuliner dan produk lokal yang berderet di tepi jalan.
“CFD di Pontianak itu hidup sekali. Warganya olahraga, anak-anak bermain, sementara pelaku UMKM menjual aneka makanan dan minuman. Sintang seharusnya bisa seperti itu. Potensi kuliner dan UMKM kita tidak kalah,” tegasnya.
Ia menilai, dengan penataan yang baik, CFD di Sintang bisa menjadi “etalase” produk lokal, mulai dari kopi, kue tradisional, hingga makanan khas tepi Kapuas dan Melawi. Ruang publik yang ramai tetapi tertib juga akan menumbuhkan rasa bangga warga terhadap kotanya. Ada dua titik yang diusulkan Senen Maryono sebagai kawasan pilot project CFD: jalur di sekitar Hutan Wisata Baning dan ruas Jalan PKP Mujahidin.
Hutan Wisata Baning selama ini dikenal sebagai “paru-paru kota” Sintang. Hutan tropis rawa gambut seluas lebih dari 200 hektare ini berada tepat di jantung kota dan menjadi satu-satunya hutan alami yang letaknya di tengah kota di Indonesia.
“Bayangkan kalau Minggu pagi, lingkar Hutan Wisata Baning ditutup untuk kendaraan. Warga bisa jogging mengelilingi hutan, senam bersama, atau bersepeda sambil menghirup udara segar. Itu akan menjadi ikon baru Sintang,” kata Senen.
Sementara Jalan PKP Mujahidin dinilai strategis karena dikelilingi permukiman, sekolah, perkantoran, hingga deretan rumah makan dan warung kopi. Di sepanjang koridor ini sudah terdapat berbagai fasilitas publik seperti sekolah dasar, kantor pajak, hingga rumah makan yang cukup dikenal warga.
“Di PKP Mujahidin, pedagang kuliner bisa kita tata rapi di satu sisi, jalan utama kita kosongkan untuk warga berolahraga. Tidak perlu langsung panjang, bisa dimulai dari beberapa ratus meter terlebih dulu,” jelasnya.
Dorongan pembukaan CFD bukan tanpa dasar. Berbagai kajian kesehatan menyebutkan orang dewasa dianjurkan beraktivitas fisik aerobik intensitas sedang 150–300 menit per minggu untuk menjaga kesehatan jantung dan menurunkan risiko penyakit kronis.
Senen menilai, menyediakan ruang khusus yang nyaman dan bebas kendaraan akan membantu warga membangun kebiasaan hidup aktif.
“Kalau ada CFD tiap Minggu, masyarakat punya jadwal tetap. Tinggal jalan cepat 30 menit saja sudah cukup memulai hidup sehat. Anak-anak juga bisa lepas gadget, ikut bermain dan berlari di ruang terbuka,” ujarnya.
Di Sintang, proporsi penduduk usia muda dan produktif cukup besar. Data kependudukan 2024 menunjukkan penduduk kabupaten ini sekitar 446 ribu jiwa, dengan mayoritas berada pada usia kerja dan usia sekolah.
“Itu modal besar. Generasi muda yang sehat dan bugar akan menjadi kekuatan Bumi Senentang ke depan. Pemerintah harus hadir menyediakan ruang,” tambahnya.
Selain aspek kesehatan, Senen menekankan pentingnya CFD sebagai panggung promosi kuliner dan UMKM lokal. Selama ini, banyak pelaku usaha kecil di Sintang hanya mengandalkan keramaian malam hari di titik-titik tertentu atau momen bazar sesaat.
Melalui CFD, UMKM bisa mendapat pasar yang lebih pasti setiap Minggu pagi. Pengunjung yang datang untuk olahraga bisa sekaligus menikmati sarapan, jajanan tradisional, hingga kopi dari kedai-kedai lokal.
“Kita punya kuliner khas, punya pedagang kecil yang kreatif. Kalau dikumpulkan di satu kawasan CFD yang ramai, perputaran ekonominya akan terasa. Pemerintah tinggal mengatur zonasi dan perizinan dengan baik,” ucap Senen.
Ia juga menyinggung peluang CFD untuk menarik wisatawan domestik. Hutan Wisata Baning yang sudah lebih dulu dikenal sebagai destinasi alam edukatif bisa “dijual” satu paket dengan suasana CFD yang meriah di sekitarnya.
Meski demikian, Senen menyadari penetapan kawasan CFD tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Ada banyak hal yang perlu dikaji, mulai dari rekayasa lalu lintas, penataan pedagang, kebersihan, hingga kesiapan petugas di lapangan.
Ia mendorong dinas terkait, mulai dari Dinas Perhubungan, Dinas Perdagangan, Dinas Pariwisata, hingga Satpol PP, duduk bersama untuk menyusun skema uji coba. Menurutnya, pemerintah bisa memulai dengan uji coba CFD selama tiga bulan di salah satu lokasi yang dinilai paling siap. “Mulai dulu dengan uji coba. Kalau ternyata ramai dan tertib, baru diperluas atau diperpanjang durasinya. Yang penting ada kemauan. Warga Sintang sudah siap menerima dan memanfaatkan CFD ini,” pungkas Senen.
