Shalat Idul Fitri Perdana Pasca Pandemi Berlangsung Khidmat

38

Sanggau, Kalbar – Setelah dua tahun tidak melaksanakan shalat idul fitri di lapangan terbuka, kini di hari raya kemenangan pasca umat muslim melaksanakan puasa ramadan, PHBI kembali melaksanakannya secara terbuka bertempat di halaman Kantor Bupati Kabupaten Sanggau, Senin (2/5).

Sejak pukul 06.00 WIB, jamaah mulai memadati halaman Kantor Bupati Sanggau. Shalat Ied berlangsung khusuk. Bertindak selaku imam shalat ied Bripka Suryansah dan khotib H.Ahkhmad Saukani.

Dalam khutbahnya, H. Akhamd Saukani yang juga ketua Umum PHBI Kabupaten Sanggau itu mengajak, umat muslim untuk mewujudkan kesalihan yang tidak hanya bersifat ritual aaja tetapi kesalihan yang bersifat sosial.


“Setelah sebulan penuh kita melaksanakan puasa ramadan pertanyaan, kesalihan apa yang sudah kita perbuat sehingga Allah SWT pantas meridhoi amal dan perbuatan kita,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dalam islam, ada dua kesalihan yang harus dimiliki seorang muslim, baik kesalihan ritual yang bersifat individu dan kesalihan sosial. Agama mengajarkan sebagaimana Alquran surah Albaqarrah ayat 208 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam agama islam secara kaffah dan janganlah mengikuti langkah Syaitan karena Syaitan adalah musuh yang nyata bagimu”.


“Shalih yang dimaksud disini shalih secara individual atau ritual dan juga shalih secara sosial, karena ibadah sosial selaij bertujuan mrngabdikan diri kepada Allah SWTjuga bertujuan membentuk kepribadian yang islami yang memiliki dampak positif dalam kehidupan sosial atau hubungan sesama manusia,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ia mengungkapkan, bahwa  kriteria keislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah sosialnya seperti shalatnya puasanya, tetapi juga dilhat dari nilai-nilai dan hubungan sosialnya dengan masyarakat sehingga melahirkan rasa kasih sayang kepada sesama, menghargai hak orang lain, cinta kasih, penuh kesantunan, menjaga hubungan baik dengan orang lain, memberi dan mau membantu sesama.


“Seluruh ibadah ritual yang dilakukan dengan benar akan melahirkan kesalihan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia mencegah dari perbuatan keji dan mungkat. Suatu ketika Rasulullah mendengar seseorang rajin shalat dimalam hari dan puasa disiang hari, tetapi lidahnya sering menyakit tetangganya. Apa komentar nabi tentang dia, jawab nabi ‘dia penghuni neraka’. Naudzulbillahi mindzalik,” tuturnya.

Menurutnyam hal tersebut  membuktikan, bahwa ibadah ritual tidaklah cukup, ibadah sosia harus dibarengi dengan ibadah sosial karena ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari melukai hati dan perasaan orang lain. Dalam kisah lain pernah diceritakan bahwa salah seorang sahabat pernah memuji kesalihan sahabat yang lain.


“Nabi bertanya, mengapa ia kau sebut sholih, sahabatpun menjawab setiap saya masuk masjid dia sudah shalat dengan khusus dan setiap saya pulang dia masih aja khusuk berdoa. Nabi bertanya lagi siapa yang memberinya makan dan minum sahabat mrnjawab Kakaknya. Lalu kata Nabi, Kakaknya itulah yang layak disebut shalih,” pungkasnya.