Sintang Harus Bersiap Menjadi Kota Besar

Sintang, Kalbar — Hampir setiap siang, di Tugu Jam Jalan MT Haryono, suara klakson bersautan dari kendaraan yang saling berebut ruang. Deretan sepeda motor, mobil pribadi, hingga truk logistik memadati ruas jalan yang kini terasa semakin sesak. Fenomena ini bukan cerita baru bagi masyarakat Sintang. Namun beberapa tahun terakhir, potret kemacetan di beberapa titik menunjukkan perubahan serius, Sintang berkembang cepat, dan bersamaan dengan itu, kebutuhan akan infrastruktur jalan yang lebih luas dan modern semakin mendesak.

Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Chomain Wahab, menjadi salah satu pihak yang paling vokal menyuarakan kebutuhan tersebut. Ia menegaskan bahwa pelebaran jalan bukan lagi sekadar rencana jangka panjang, tetapi kebutuhan mendesak untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap lancar dan perkembangan ekonomi berjalan optimal.

Chomain Wahab menyampaikan bahwa terdapat dua jalur vital yang perlu segera mendapat perhatian, Jalan Lintas Melawi dan Jalan MT Haryono. Dua ruas ini menjadi nadi pergerakan baik masyarakat maupun aktivitas ekonomi.

“Kendaraan di Sintang meningkat tajam setiap tahun. Kota kita berkembang sangat cepat, tapi infrastruktur jalan tidak ikut menyesuaikan. Kalau dibiarkan, kemacetan akan semakin parah dan bisa menghambat perkembangan Sintang sendiri,” ujar Chomain dengan nada serius.

Jalan Lintas Melawi merupakan salah satu akses utama menuju pusat Kota Sintang, sekaligus jalur regional yang vital bagi mobilitas antar­kecamatan dan merupakan satu-satunya jalur menuju Kota Putussibau. Sedangkan Jalan MT Haryono, menjadi salah satu ruas dalam kota yang paling sibuk karena berada di kawasan pusat aktivitas masyarakat, mulai dari pertokoan, perkantoran, hingga kawasan pemukiman padat.

Pada jam-jam sibuk, di kedua jalur ini sering terjadi kemacetan. Situasi ini, menurut Chomain, tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas masyarakat.

Sintang kini tidak lagi sekadar kota perlintasan. Pertumbuhan ekonomi, perdagangan, hingga pendidikan menjadikan kawasan ini semakin ramai. Banyak warga dari kecamatan-kecamatan sekitar datang setiap hari untuk bekerja, berbelanja, atau mengakses layanan publik.

“Pertumbuhan penduduk dan kendaraan di Sintang dalam lima tahun terakhir sangat tinggi. Dampaknya langsung terlihat di ruas jalan utama,” kata Chomain.

Sintang kini sebagai pusat pertumbuhan baru di Kalimantan Barat bagian timur. Keberadaan bandara, pelabuhan sungai, kawasan perdagangan, serta ekspansi pemukiman menunjukkan arah perkembangan yang jelas menuju kota besar.

“Kita jangan sampai hanya menjadi kota besar dari jumlah kendaraan dan penduduk, tapi tidak siap secara infrastruktur. Itu bahaya. Kalau ini terjadi maka ini bukan kemajuan, tapi stagnasi,” tambah Chomain.

Menurut Chomain, jalan Lintas Melawi bukan hanya jalur lokal, melainkan jalan poros yang menghubungkan banyak kecamatan hingga kabupaten tetangga. Karena itu, pelebaran Jalan Lintas Melawi menjadi wajib. “Ini akses utama yang setiap hari dilalui ratusan kendaraan. Kalau tidak segera diperluas, mobilitas masyarakat terhambat,” katanya.

Selain kemacetan, jalur yang sempit ditambah volume kendaraan besar seperti truk logistik menimbulkan bahaya karena rawan bersinggungan dengan pengendara motor.

Berbeda dari Lintas Melawi yang menjadi jalur perlintasan, Jalan MT Haryono adalah pusat denyut kehidupan kota. Di sepanjang jalan ini berdiri berbagai toko, rumah makan, kantor perusahaan, hingga lokasi perbankan yang setiap hari ramai dikunjungi warga.

“MT Haryono itu harus dilebarkan. Tidak bisa ditunda. Ini jantung kota. Kalau pusat kota tersumbat, seluruh aktivitas ikut tersendat.”

Pelebaran dua jalur utama bukan sekadar soal menambah ukuran jalan. Tapi menciptakan Sintang sebagai kota modern, yang mobilitasnya lancar, infrastrukturnya memadai, dan menunjang perkembangan ekonomi jangka panjang.

Chomain Wahab menekankan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan searah dengan pertumbuhan kota.

“Kita harus melihat ke depan. Sepuluh tahun lagi, Sintang akan jauh lebih ramai dibanding sekarang. Jika pelebaran jalan dilakukan sejak dini, kita sudah siap menjadi kota besar. Kalau menunggu macet parah dulu baru bertindak, kita akan terlambat.”

Di akhir wawancaranya, Chomain Wahab menegaskan komitmen DPRD Sintang dalam mendorong pemerintah daerah, baik kabupaten, provinsi maupun pusat agar segera melakukan kajian dan menyusun rencana pelebaran.

“Kami di DPRD akan terus mendorong. Ini bukan kepentingan pribadi atau politis. Ini kebutuhan semua warga Sintang. Jalan harus dilebarkan kalau kita ingin Sintang benar-benar menjadi kota besar yang maju.”

Ia optimistis, dengan kolaborasi yang baik antara legislatif, eksekutif, dan dukungan masyarakat, pembangunan ini dapat segera terwujud.

Sintang sedang berada di fase penting dalam perjalanannya menjadi kota besar. Pertumbuhan penduduk, peningkatan kendaraan, dan pesatnya pembangunan ekonomi menuntut kesiapan infrastruktur yang memadai.

Pelebaran Jalan Lintas Melawi dan Jalan MT Haryono adalah bagian penting dari upaya menata masa depan kota ini. Seperti kata Chomain Wahab, “Kalau Sintang ingin maju, jalannya harus siap dulu. Mobilitas lancar adalah fondasi sebuah kota besar.”

Masyarakat kini menanti langkah nyata. Sintang bergerak, tumbuh, dan bersiap menyambut masa depan.

SebelumnyaSaat Dana Dipangkas, Santosa Minta Inovasi Harus Ditempa
SelanjutnyaTBC Mengancam Sintang