Sintang, Kalbar – Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Kusnadi mendesak Pemkab Sintang untuk memprioritaskan program cetak sawah di Kecamatan Sepauk. Dikatakan Kusnadi, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, sejak beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik fokus pemerintah daerah dalam program cetak sawah. Program yang digagas untuk memperluas lahan tanam, meningkatkan produksi pangan, hingga mendorong swasembada daerah ini diharapkan menjadi motor baru perekonomian masyarakat pedesaan. Namun, realitas di lapangan tidak selalu selaras dengan ambisi besar yang direncanakan.
Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Kusnadi, menaruh perhatian serius terhadap perjalanan program ini, terutama setelah meninjau kondisi kelompok tani di Desa Tawang Sari, Sepauk. Ia melihat semangat petani tidak pernah padam, tetapi berbagai hambatan membuat hasil kerja keras mereka belum dapat menembus pasar lebih luas.
Desa Tawang Sari kini memiliki lahan cetak sawah yang cukup luas. Petani bekerja sejak pagi hingga senja, dari mengolah tanah, menanam padi, hingga memanen. Dari kejauhan, hamparan padi yang menguning tampak menjanjikan, seolah memberi harapan tentang masa depan pertanian di daerah itu.
Namun, di balik pemandangan yang indah itu, tersimpan kenyataan yang belum menggembirakan. Hasil panen para petani masih belum mampu menembus pasar luar daerah. Beras yang dihasilkan, meski berkualitas, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di dalam kecamatan.
“Meskipun ada anggaran yang cukup untuk cetak sawah, kenyataannya tidak semua berjalan sesuai harapan,” ujar Kusnadi. Ia menambahkan bahwa usaha pengemasan beras yang digagas sebagian kelompok tani pun belum menunjukkan perkembangan yang mampu mendorong daya saing produk lokal tersebut.
Salah satu kendala utama yang dihadapi petani adalah akses menuju pasar. Jalan menuju lahan pertanian maupun jalur distribusi menuju pasar kecamatan masih jauh dari ideal. Pada musim hujan, beberapa ruas jalan berubah menjadi lumpur tebal yang sulit dilalui kendaraan, membuat aktivitas distribusi tersendat.
“Kalau infrastruktur tidak diperbaiki, petani akan terus berada pada lingkaran yang sama. Produksi ada, tapi tidak bisa keluar,” kata Kusnadi.
Selain itu, tidak adanya pendampingan intensif dalam hal pemasaran membuat petani semakin kesulitan mempromosikan produk mereka. Pengemasan beras telah dicoba, tetapi tanpa strategi pemasaran yang tepat, produk itu sulit bersaing dengan beras dari luar daerah yang lebih dulu menguasai pasar.
Kemajuan pertanian tidak hanya dihitung dari luasnya lahan, tetapi bagaimana lahan itu dikelola. Di Sepauk, penggunaan alat dan mesin pertanian masih jauh dari merata. Banyak petani masih mengandalkan cara tradisional, yang memerlukan tenaga besar namun hasil tidak sebanding.
Kusnadi melihat bahwa penyediaan alat-alat modern seperti traktor, mesin perontok padi, hingga mesin pengering sangat dibutuhkan. “Kalau kita ingin produksi meningkat, petani harus dibantu. Jangan hanya lahan yang dicetak, tetapi sarana pendukungnya juga disiapkan,” tegasnya.
Tanpa alat modern, proses panen bisa berlarut-larut, dan kualitas gabah pun menurun jika terlalu lama terpapar cuaca. Kondisi inilah yang akhirnya membuat hasil panen sulit bersaing di pasar.
Meski banyak tantangan, Kusnadi tidak meragukan potensi besar pertanian di Kecamatan Sepauk. Ia percaya bahwa dengan langkah-langkah strategis, kawasan ini bisa berkembang menjadi lumbung pangan bagi Kabupaten Sintang.
Ia berharap pemerintah daerah menaruh perhatian lebih, mulai dari pembenahan infrastruktur jalan tani, pembukaan akses pasar, hingga pendampingan tani yang lebih terarah dan berkelanjutan. “Pemerintah harus memastikan hasil pertanian ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi bisa dijual keluar daerah sehingga pendapatan petani meningkat,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan pelaku usaha. Dengan dukungan yang tepat, petani tidak hanya menjadi penghasil, tetapi juga pelaku ekonomi yang berdaya.
Program cetak sawah seharusnya tidak berhenti pada pencetakan lahan. Program ini harus menjadi awal dari rantai pembangunan pertanian yang berkelanjutan—mulai dari peningkatan produksi, pengolahan hasil, hingga pemasaran yang efektif.
Kondisi di Tawang Sari menjadi cerminan bahwa pekerjaan rumah pemerintah masih panjang. Namun, di ladang-ladang yang menguning itu, semangat petani tetap bertahan. Mereka berharap suatu hari nanti hasil panen mereka tidak lagi hanya berputar di tingkat kecamatan, tetapi mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan produk pertanian lain di pasar regional bahkan nasional.
Dengan komitmen dan perhatian serius, Kecamatan Sepauk dapat menjelma menjadi contoh sukses pembangunan pertanian di Sintang. Dan bagi para petani, setiap butir padi yang mereka tanam menjadi simbol harapan-harapan untuk kehidupan yang lebih sejahtera melalui tanah yang mereka garap dengan sepenuh hati.
Dewan Sintang Desak Pemkab Prioritaskan Program Cetak Sawah
Sintang, Kalbar – Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Kusnadi mendesak Pemkab Sintang untuk memprioritaskan program cetak sawah di Kecamatan Sepauk. Dikatakan Kusnadi, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, sejak beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik fokus pemerintah daerah dalam program cetak sawah. Program yang digagas untuk memperluas lahan tanam, meningkatkan produksi pangan, hingga mendorong swasembada daerah ini diharapkan menjadi motor baru perekonomian masyarakat pedesaan. Namun, realitas di lapangan tidak selalu selaras dengan ambisi besar yang direncanakan.
Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Kusnadi, menaruh perhatian serius terhadap perjalanan program ini, terutama setelah meninjau kondisi kelompok tani di Desa Tawang Sari, Sepauk. Ia melihat semangat petani tidak pernah padam, tetapi berbagai hambatan membuat hasil kerja keras mereka belum dapat menembus pasar lebih luas.
Desa Tawang Sari kini memiliki lahan cetak sawah yang cukup luas. Petani bekerja sejak pagi hingga senja, dari mengolah tanah, menanam padi, hingga memanen. Dari kejauhan, hamparan padi yang menguning tampak menjanjikan, seolah memberi harapan tentang masa depan pertanian di daerah itu.
Namun, di balik pemandangan yang indah itu, tersimpan kenyataan yang belum menggembirakan. Hasil panen para petani masih belum mampu menembus pasar luar daerah. Beras yang dihasilkan, meski berkualitas, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di dalam kecamatan.
“Meskipun ada anggaran yang cukup untuk cetak sawah, kenyataannya tidak semua berjalan sesuai harapan,” ujar Kusnadi. Ia menambahkan bahwa usaha pengemasan beras yang digagas sebagian kelompok tani pun belum menunjukkan perkembangan yang mampu mendorong daya saing produk lokal tersebut.
Salah satu kendala utama yang dihadapi petani adalah akses menuju pasar. Jalan menuju lahan pertanian maupun jalur distribusi menuju pasar kecamatan masih jauh dari ideal. Pada musim hujan, beberapa ruas jalan berubah menjadi lumpur tebal yang sulit dilalui kendaraan, membuat aktivitas distribusi tersendat.
“Kalau infrastruktur tidak diperbaiki, petani akan terus berada pada lingkaran yang sama. Produksi ada, tapi tidak bisa keluar,” kata Kusnadi.
Selain itu, tidak adanya pendampingan intensif dalam hal pemasaran membuat petani semakin kesulitan mempromosikan produk mereka. Pengemasan beras telah dicoba, tetapi tanpa strategi pemasaran yang tepat, produk itu sulit bersaing dengan beras dari luar daerah yang lebih dulu menguasai pasar.
Kemajuan pertanian tidak hanya dihitung dari luasnya lahan, tetapi bagaimana lahan itu dikelola. Di Sepauk, penggunaan alat dan mesin pertanian masih jauh dari merata. Banyak petani masih mengandalkan cara tradisional, yang memerlukan tenaga besar namun hasil tidak sebanding.
Kusnadi melihat bahwa penyediaan alat-alat modern seperti traktor, mesin perontok padi, hingga mesin pengering sangat dibutuhkan. “Kalau kita ingin produksi meningkat, petani harus dibantu. Jangan hanya lahan yang dicetak, tetapi sarana pendukungnya juga disiapkan,” tegasnya.
Tanpa alat modern, proses panen bisa berlarut-larut, dan kualitas gabah pun menurun jika terlalu lama terpapar cuaca. Kondisi inilah yang akhirnya membuat hasil panen sulit bersaing di pasar.
Meski banyak tantangan, Kusnadi tidak meragukan potensi besar pertanian di Kecamatan Sepauk. Ia percaya bahwa dengan langkah-langkah strategis, kawasan ini bisa berkembang menjadi lumbung pangan bagi Kabupaten Sintang.
Ia berharap pemerintah daerah menaruh perhatian lebih, mulai dari pembenahan infrastruktur jalan tani, pembukaan akses pasar, hingga pendampingan tani yang lebih terarah dan berkelanjutan. “Pemerintah harus memastikan hasil pertanian ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi bisa dijual keluar daerah sehingga pendapatan petani meningkat,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, kelompok tani, dan pelaku usaha. Dengan dukungan yang tepat, petani tidak hanya menjadi penghasil, tetapi juga pelaku ekonomi yang berdaya.
Program cetak sawah seharusnya tidak berhenti pada pencetakan lahan. Program ini harus menjadi awal dari rantai pembangunan pertanian yang berkelanjutan—mulai dari peningkatan produksi, pengolahan hasil, hingga pemasaran yang efektif.
Kondisi di Tawang Sari menjadi cerminan bahwa pekerjaan rumah pemerintah masih panjang. Namun, di ladang-ladang yang menguning itu, semangat petani tetap bertahan. Mereka berharap suatu hari nanti hasil panen mereka tidak lagi hanya berputar di tingkat kecamatan, tetapi mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan produk pertanian lain di pasar regional bahkan nasional.
Dengan komitmen dan perhatian serius, Kecamatan Sepauk dapat menjelma menjadi contoh sukses pembangunan pertanian di Sintang. Dan bagi para petani, setiap butir padi yang mereka tanam menjadi simbol harapan-harapan untuk kehidupan yang lebih sejahtera melalui tanah yang mereka garap dengan sepenuh hati.
