Sintang, Kalbar — Lanskap Kabupaten Sintang yang dipenuhi aliran sungai dan lereng perbukitan, tersimpan potensi energi yang telah lama dimanfaatkan masyarakat pedalaman. Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pemanfaatan energi ramah lingkungan ini bukan hanya menjadi solusi atas keterbatasan akses listrik negara, tetapi juga bukti bahwa alam, ketika dikelola secara bijak, mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Salah satu contoh keberhasilan tersebut dapat ditemukan di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, sebuah desa yang dikelilingi aliran Sungai Segak dan anak-anak sungainya. Di desa ini, semangat gotong royong masyarakat melahirkan sebuah PLTMH sederhana tetapi fungsional, yang hingga kini tetap menjadi sumber listrik utama warga setempat.
Anggota DPRD Kabupaten Sintang, Kusnadi, mengenang bagaimana PLTMH di Desa Nanga Pari dirintis beberapa tahun lalu. ia menjelaskan bahwa pembangunan PLTMH tersebut merupakan inisiatif murni masyarakat tanpa dukungan besar dari pihak luar.
“Di Nanga Pari, PLTMH sudah dibangun. Lokasinya di kilometer 68 Sungai Segak Dusun Silit. PLTMH tersebut sudah berdiri sekitar lima tahun lalu,” ungkap Kusnadi.
Meski sederhana, dampaknya besar. Masyarakat yang sebelumnya hanya mengandalkan lampu minyak kini bisa menikmati penerangan layak pada malam hari. Anak-anak dapat belajar lebih lama, kegiatan rumah tangga menjadi lebih mudah, hingga usaha kecil rumahan pun mulai tumbuh berkat suplai listrik yang stabil.
“Sampai hari ini PLTMH masih jalan. Itu PLTMH hasil swadaya masyarakat,” tambah legislator dari dapil Sintang 6 yang meliputi Kecamatan Sepauk dan Tempunak tersebut.
PLTMH Dusun Silit bukan satu-satunya yang berdiri di Sintang. Dari Sepauk hingga ke Tempunak, banyak daerah pedalaman yang sebenarnya memiliki kondisi alam ideal untuk pengembangan mikrohidro. Sungai-sungai kecil yang mengalir sepanjang tahun, kontur tanah yang curam, serta debit air yang relatif stabil membuat wilayah ini sangat kaya akan potensi energi terbarukan.
Menurut Kusnadi, pemanfaatan PLTMH seperti di Dusun Silit dapat menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat mandiri dalam mengatasi keterbatasan infrastruktur. Di beberapa tempat, inisiatif serupa juga telah hadir, meskipun tidak semuanya berjalan lancar atau bertahan lama. Faktor alam, perawatan fasilitas, dan kemampuan teknis masyarakat sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pembangkit mikrohidro.
“Keberhasilan PLTMH ini juga menjadi bukti bahwa jika alam dikelola serius bisa membantu masyarakat. Tapi komitmen menjaga alam itu penting. Jika sungai rusak, hutan gundul, suplai air pasti terpengaruh dan PLTMH bisa berhenti beroperasi,” tegasnya.
Kusnadi menilai bahwa keberadaan PLTMH tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekologis. Sungai dan hutan yang menjadi sumber tenaga harus dipelihara dengan baik. Pembukaan lahan sembarangan, aktivitas tambang ilegal, atau penebangan liar berpotensi merusak daerah resapan dan mengurangi debit air yang menjadi nyawa pembangkit.
Di banyak desa lain, kerusakan lingkungan menjadi faktor utama matinya PLTMH yang sebelumnya beroperasi dengan baik. Debit sungai yang menurun drastis saat musim kemarau atau tersumbatnya saluran air akibat sedimentasi merupakan persoalan yang sering muncul ketika lingkungan sekitar tidak lagi terjaga.
“Kalau sungai rusak, air kotor atau tidak stabil, PLTMH tidak bisa berfungsi. Karena itu masyarakat harus punya kesadaran menjaga alam, agar pembangkit bisa bertahan puluhan tahun,” kata Kusnadi.
Walaupun PLTMH memberikan manfaat besar, masyarakat di pedalaman Sintang tetap merindukan datangnya listrik negara. Bagi mereka, hadirnya jaringan listrik dari PLN bukan hanya soal penerangan, tetapi juga simbol bahwa negara hadir dan peduli terhadap kesejahteraan warga di daerah terpencil.
“Meskipun PLTMH mampu menerangi desa, masyarakat tetap berharap listrik dari negara. Kehadiran listrik nasional itu penting sebagai bukti negara hadir,” ujar Kusnadi.
Ketersediaan listrik PLN memungkinkan masyarakat menikmati daya lebih besar dan stabil untuk pengembangan usaha, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh. Karena itu, PLTMH bagi mereka lebih seperti jembatan sementara yang sangat membantu, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan jangka panjang.
Kusnadi menegaskan pentingnya pemerintah daerah untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi listrik mikrohidro di berbagai wilayah Sintang. Dengan pendampingan teknis yang baik, pelatihan, serta dukungan peralatan yang lebih memadai, PLTMH dapat menjadi solusi energi terbarukan yang berkelanjutan.
Selain menunggu pembangunan jaringan listrik nasional, PLTMH bisa menjadi alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan dapat dikelola masyarakat secara mandiri. Keberadaannya tidak hanya memberi penerangan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan menumbuhkan semangat kemandirian masyarakat pedalaman.
“Potensi ini besar. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan benar dan memastikan keberlanjutan energi itu untuk kemakmuran masyarakat,” pungkas Kusnadi.
