Sintang, Kalbar – Di hampir semua kecamatan di Kabupaten Sintang, hamparan luas perkebunan kelapa sawit telah menggantikan hutan-hutan yang hijau. Jalan-jalan kampung yang dulunya sepi kini ramai oleh hilir-mudik kendaraan pengangkut TBS. Di warung kopi, obrolan tentang harga sawit, pupuk, hingga bibit unggul menjadi percakapan sehari-hari. Tidak berlebihan jika banyak warga menyebut bahwa “Sintang sejahtera karena sawit.” Komoditas ini telah menjadi penopang ekonomi masyarakat, terutama bagi para petani kecil di pedesaan.
Alasan inilah yang menjadikan anggota DPRD Kabupaten Sintang dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sebastian Jaba, berkomitmen untuk menggalakkan program sawit mandiri. Ia ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan industri sawit, tetapi menjadi pelaku utama yang mandiri, kuat, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Gagasan itu disampaikan Sebastian Jaba usai menghadiri rapat paripurna baru-baru ini. Dengan gaya bicara tenang namun penuh keyakinan, ia mengulang kembali apa yang disampaikan kepada masyarakat sejak masa kampanye.
“Sawit mandiri merupakan salah satu program yang akan kita galakkan atau dorong ke depan. Ini sudah saya sampaikan ke masyarakat saat kampanye,” ujarnya. “Saya menganggap komoditas sawit itu sangat penting. Karena bagaimanapun, komoditas sawit sangat mendongkrak ekonomi masyarakat. Bahkan ekonomi dasar menurut kami.”
Sintang bukan hanya wilayah yang kaya sawit, tetapi tempat di mana sawit telah menjadi bagian dari budaya bertani masyarakat. Di banyak desa, sawit mandiri terbukti membantu keluarga membangun rumah, menyekolahkan anak, hingga memulai usaha baru. Mereka yang dulunya bergantung pada pertanian subsisten kini memiliki sumber pendapatan lebih pasti.
Sebastian menyadari bahwa geliat positif ini harus dijaga dan ditingkatkan. Terutama bagi petani kecil di Dapil Sintang 3 yang diwakilinya—meliputi Kecamatan Sungai Tebelian, Dedai, dan Kelam Permai, yang sebagian besar menggantungkan ekonomi keluarga pada perkebunan kelapa sawit rakyat.
Menurutnya, petani sawit mandiri adalah aset daerah. “Jika masyarakat bisa mengelola kebun sendiri secara baik, produktivitas meningkat, dan ekonomi mereka terdongkrak, maka tingkat kesejahteraan di Sintang juga akan meningkat,” katanya.
Untuk merealisasikan gagasan tersebut, Sebastian mengaku telah memiliki kerangka kerja yang ingin ia dorong bersama pemerintah daerah. Baginya, sinergi dengan pemerintah adalah kunci.
“Ke depan kita mencoba bersinergi dengan pemerintah untuk mengalokasikan anggaran-anggaran kepada masyarakat kita, terutama petani sawit. Bagaimana mereka bisa ter-cover bantuan melalui program-program pemerintah daerah Kabupaten Sintang melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan. Ini akan kita kawal,” terang Sebastian.
Bantuan yang dimaksud bukan sekadar formalitas. Menurutnya, kebutuhan paling mendesak petani sawit mandiri diantaranya, akses bibit sawit berkualitas dan bersertifikat, ketersediaan pupuk subsidi dengan harga terjangkau, pelatihan teknis budidaya sawit yang benar dan modern.
Ia menilai, tiga kebutuhan ini dapat memperbaiki kualitas kebun rakyat yang selama ini tumbuh secara swadaya. Bahkan di beberapa wilayah, kesalahan pemilihan bibit membuat petani menunggu bertahun-tahun namun hasil tak sesuai harapan.
“Mereka perlu diberikan pelatihan agar memahami betul bagaimana menanam sawit yang benar. Sehingga sawit yang ditanam produktif dan menghasilkan pendapatan yang bisa menopang ekonomi masyarakat,” katanya.
Dalam pandangan Sebastian, sawit mandiri bukan hanya program jangka pendek, tetapi investasi masa depan bagi daerah. Sintang memiliki potensi alam yang luas, topografi yang mendukung, serta masyarakat yang sudah berpengalaman dalam budidaya sawit. Jika diberikan akses, pengetahuan, dan dukungan anggaran, ia percaya Sintang bisa menjadi contoh kabupaten yang berhasil membangun kemandirian petani sawit.
Lebih dari itu, sawit mandiri dapat menjadi gerakan kolektif: menguatkan posisi tawar petani terhadap perusahaan, meningkatkan kualitas hasil, dan memastikan rantai produksi memberi nilai tambah maksimal bagi masyarakat lokal.
“Jika petani kuat, Sintang pun kuat,” begitu Sebastian sering menekankan.
Perkebunan sawit rakyat telah membuat banyak perubahan di Sintang. Dari kampung-kampung terpencil di pedalaman hingga kawasan pinggiran kota, sawit telah memberikan kehidupan baru. Kini, dengan dorongan dari kursi legislatif, harapan itu menguat.
Program sawit mandiri yang digagas Sebastian Jaba bukan sekadar rencana politik, tetapi jawaban atas kebutuhan nyata masyarakat. Sawit telah menjadi denyut ekonomi, dan memperkuatnya berarti memperkuat masa depan Sintang.
Sintang tumbuh karena sawit. Jika program ini berjalan, bukan tidak mungkin Sintang akan semakin sejahtera, bukan hanya karena sawit, tetapi karena petaninya yang mandiri.
